Makalah Pembelajaran IPA yang Kontruktivitas


KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karuniannya saya bias menyusun Makalah dengan judul “Pembelajaran IPA Yang Kontruktivitas”. Makalah ini sengaja kami susun yaitu untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pembelajaran IPA sebagai tugas kelompok.
Penulis sadar mungkin dalam isi makalah ini masih ada yang kurang sempurna, maka dari itu saya mohon untuk di maklum karena mungkin dari pengetahuan juga belum begitu luas.
Maka dari itu saya sebagai penulis mengharapkan sekiranya ada masukan saran dan kritik dari rekan-rekan yang bersifat membangun, saya tidak segan-segan untuk menerima kritikan tersebut guna perbaikan makalah kedepan.


Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................          i
DAFTAR ISI...............................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang............................................................................          1
1.2  Rumusan Masalah........................................................................          2
1.3  Tujuan..........................................................................................          2
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Kontruktivitas dalam pembelajaran...........................          3
2.2  Keuntungan dan kelemahan........................................................          4
2.3  Pembelajaran IPA yang bersifat kontruktif.................................          4
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan...................................................................................          7
3.2  Saran.............................................................................................          7
DAFTAR PUSTAKA













BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pendidikan adalah proses memproduksi sistem nilai dan budaya kearah yang lebih baik, antara lain dalam pembentukan kepribadian, keterampilan dan perkembangan intelektual siswa. Dalam lembaga formal proses reproduksi sistem nilai dan budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran di kelas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam pendidikan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah sejak dini bagi anak adalah mata pelajaran IPA.
Ilmu Pengetahuan Alam adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis olah manusia yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan manusia. Pembelajaran IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh rahasia yang tak habis-habisnya. Khusus untuk IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa secara alamiah.
Menurut pandangan konstruktivitas keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah.
Dengan demikian jelas bahwa tahap berfikir anak usia SD harus dikaitkan dengan hal-hal nyata dan pengetahuan awal siswa yang telah dibangun mereka dengan sendirinya.
Pada saat pembelajaran IPA di kelas III SDN 1Cilengkranggirang Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon, mengenai bentuk-bentuk energi dan perubahannya yang diantaranya bentuk energi gerak, guru diawal pembelajaran tidak melakukan apersepsi, guru langsung menulis materi di papan tulis, kemudian siswa disuruh mancatat materi tersebut, setelah siswa mencatat guru langsung menjelaskan materi, ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka bergurau, ngobrol dengan teman-temannya. Bahkan ada siswa yang menaikan kakinya ke atas meja. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi, namun mereka terdiam dan tidak paham. Dalam proses pembelajaran guru juga tidak melakukan percobaan mengenai energi gerak, pembelajaran yang dilakukan guru tidak berpusat pada siswa.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah penelitian tindakan kelas yaitu :
a.       Bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivitas untuk meningkatkan pemahaman siswa?
b.      Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami materi IPA di SD?
1.3  Tujuan
Berdasarkan pertanyaan yang terdapat dalam perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :
a.       Untuk mengetahui gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivitas untuk meningkatkan pemahaman siswa.
b.      Untuk mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami materi IPA di SD.





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konstruktivitas Dalam Pembelajaran
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu.
Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud diatas adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan minds-on dan hands-on serta terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
Dalam pelaksanaan teori belajar konstruktivitas ada beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran yaitu sebagai berikut :
a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan bahasa sendiri.
b.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga lebih kreatif dan imajinatif.
c.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
d.      Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.
e.       Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
f.       Menciptakan lingkungan yang kondusif.
Dari berbagai pandangan di atas, bahwa pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivitas lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka dengan kata lain siswa lebih berpengalaman untuk mengonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
2.1 Keuntungan dan kelemahan dalam menggunakan model konstruktivitas
Dalam penggunaan model konstruktivitas terdapat keuntungan yaitu :
a.       Dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam mempelajari konsep IPA.
b.      Melatih siswa berfikir kritis dan kreatif.
Adapun kelemahan pembelajaran konstruktivitas adalah :
a.       Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
b.      Konstruktivitas menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
c.       Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa
2.3 Pembelajaran IPA yang bersifat konstruktif di SD
Setidaknya ada lima cakupan yang harus dipelajari dalam pelajaran IPA di sekolah dasar. Keempat cakupan tersebut adalah:
1)      Konsep IPA terpadu
2)      biologi
3)      fisika
4)      ilmu bumi dan antariksa
5)      IPA dalam perspektif interdisipliner
Sampai saat ini, konten sains bagi kebanyakan guru diberikan melalui metode ceramah dan kegiatan pembuktian di laboratorium, dengan sedikit fokus terhadap pemberian pengalaman dalam melakukan penelitian atau aplikasi IPA dalam konteks teknologi. NSTA dalam Science teacher Preparation ini membedakan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru IPA sekolah dasar yang memliki latar belakang IPA dan guru-guru yang memiliki latar belakang keilmuan IPA SD dan SMP. NSTA merekomendasikan guru SD yang tidak memiliki latar belakang IPA untuk memiliki kompetensi dalam melangsungkan pembelajaran yang menitik beratkan pada kegiatan observasi dan mendeskripsikan kejadian, memanipulasi objek dan system, serta melakukan identifikasi terhadap pola yang ada di alam yang berhubungan dengan cakupan bidang studi IPA.
Guru-guru ini juga harus melibatkan siswa dalam memanipulasi kegiatan yang mengarahkan pada pengembangan konsep melalui kegiatan investigasi dan analisis terhadap pengalaman. Sedangkan untuk guru yang memiliki latar belakang IPA untuk tingkat SD dan SMP kriteria yang harus dimiliki adalah melangsungkan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan kolaboratif melalui inkuiri yang dilangsungkan di laboratorium atau lapangan. Guru-guru yang memiliki latar belakang pendidikan dalam IPA harus memiliki pemahaman yang lebih dalam dibandingkan guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan IPA, namun mereka harus memiliki tama-tema dan perspektif yang sama terhadap IPA.
Hurd (1998) yang menyatakan bahwa orang yang dinyatakan melek sains memiliki 3 ciri sebagai berikut:
a)      Dapat membedakan teori dari dogma, data dari hal-hal yang bersifat mistis, sains dari pseudo sains, bukti dari propaganda dan pengetahuan dari pendapat.
b)      Mengenal dan  memahami hakikat ipa, keterbatasan dari saintifk inkuiri, kebutuhan untuk pengumpulan bukti.
c)      Memahami bagaimana cara untuk menganalisis dan memproses data.
Untuk menjadi orang yang melek sains ini diperlukan cara pengajaran yang berisfat konstruktif. Ciri pembelajaran yang bersifat kosntruktif ini dapat dibedakan dengan pembelajaran yang bersifat tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1)      lebih memahami dan merespon minat, kekuatan, pengalaman dan keperluan siswa secara individual.
2)      senantiasa menyeleksi dan mengadaptasi kurikulum.
3)      berfokus pada pemahaman siswa dan menggunakan pengetahuan sains, ide serta proses inkuiri.
4)      membimbing siswa dalam mengembangan saintifik inkuiri.
5)      menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dan berdebat dengan siswa lain.
6)      secara berkesinambungan melakukan asesmen terhadap pemahaman siswa.
7)      memberikan bimbingan pada siswa untuk berbagai tanggung jawab dengan siswa lain.
8)      mensuport pembelajaran kooperatif (cooperative learning), mendorong siswa untuk bekerjasama dengan guru sains lain dalam mengembangkan proses inkuiri.


















                                                     







BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud diatas adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan minds-on dan hands-on serta terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
            Ciri pembelajaran yang bersifat kosntruktif ini dapat dibedakan dengan pembelajaran yang bersifat tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       lebih memahami dan merespon minat, kekuatan, pengalaman dan keperluan siswa secara individual.
b.      senantiasa menyeleksi dan mengadaptasi kurikulum.
c.       berfokus pada pemahaman siswa dan menggunakan pengetahuan sains, ide serta proses inkuiri.

3.2 Saran
Penyusunan makalah ini tidak lain karena penyusun terinspisari terhadap kurangnya kualitas pendidikan di negara kita, maka dari itu mudah-mudahan bisa membantu dalam proses belajar mengajar anak didik kita menjadi penerus bangsa yang berkualitas sesuai yang di cita-citakan dalam undang-undang dasar 1945.









DAFTAR PUSTAKA





Poskan Komentar - Back to Content

Jangan Lupa Gan Komentarnya yaa